PG PAUD UNMUL 2019


Pengalaman Berujung Trauma

             Hai. Perkenalkan namaku Sohwa. Aku sama seperti gadis pada umumnya, tetapi aku memiliki sebuah kejadian kecil di masa lalu yang lucu dan sedikit membuat trauma untukku. Tenang saja, aku tidak apa-apa kok sekarang. Kejadian ini terjadi saat aku berumur 4 tahun, kurasa. Masih sangat kecil bukan, hehehe…

          Nah jadi seperti ini, saat aku berumur 4 tahun aku tinggal bersama Nenek ku yang rumahnya sebenarnya tidak jauh dari rumahku. Aku memang sangat dekat dengan Nenek, tapi bukan berarti aku tidak diurus oleh orangtua ku. Hahaha jika kamu berpikiran seperti seperti itu, kamu salah besar. Alasan aku sering tinggal bersama Nenek dan Kakek adalah karena meneamni mereka agar tidak kesepian, sebab sanak saudara semua tinggal lumayan jauh ketimbang rumahku. Nenek dan Kakek saat itu berjualan untuk pemberentian bis antarkota. Mereka hanya sekedar membuka sebuah warung kecil dari bagian depan rumahnya,berjualan minum-minuman dingin dan makanan ringan. Aku terkadang membantu walau sedikit saja, apa yang bisa diharapkan lebih dari anak yang baru berumur 4 tahun ini? Jawabannya tentu saja tidak banyak. Setidaknya dengan adanya aku bisa menambah suasana rumah Nenek dan Kakek agar tidak terlalu sepi.
          Saat itulah aku berjumpa dengan beberapa teman yang ternyata sebaya denganku. Namanya Arin dan Mark. Aku dan Arin biasa main engklek depan rumah Nenek, karena warung Nenek sering ramai, jadi terkadang kami dimarahi oleh Nenek. Ya namanya saj anak kecil, hehe. Arin adalah teman yang baik dan juga anak lucu. Kami sering sekali bermain sampai lupawaktu. Berbeda halnya dengan Mark, ya mungkin karena dia lelaki. Tentu saja dia banyak memilik mainan seperti robot-robatan dan macam-macam bola,dll. Walaupun begitu, Aku dan Arin sering bermain kerumahnya karena ia banyak memiliki mainan yang diberikan oleh ayahnya.
           Sampai pada suatu ketika, Mark menunjukkan pada kami bahwa ia sudah bisa menaiki sepeda roda dua, entah bagaimana dan kapan dia bisa menaiki itu. Akujuga baru tahu kalau dia mempunyai sepeda. Mark cukup lihai menaikinya. Aku iri dengannya, tetapi aku tidak bisa menaikinya. Jangankan sepeda roda dua, sepeda roda empat saja belum lancer. Mark bilang mengendarai sepeda roda dua sangatlah mudah, yang penting kita dapat menyeimbangkan badan agar tidak terjatuh. Aku semakin ingin mencobanya.
        Ku bulatkan tekadku untuk belajar naik sepeda roda dua milik Mark. Mark bilang ia akan memegangiku dari belakang agar aku tidak terjatuh. Aku semakin yakin bahwa aku bisa menaiki sepeda ini. Oke… aku mulai menaikinya dan mengayuh pedalnya perlahan. Karena dipegangi aku tidak terjatuh. Awalnya berjalan dengan baik, aku bisa megayuh sepeda itu walau pelan dan arahnya hanya lurus kedepan. Aku sedikit gemetar memegang stang sepeda itu, sangat kaku. Tapi semua itu tidak berjalan mulus hingga akhir , tak lama saat beberapakayuhan ku, Mark melepaskan pegangannya dan aku yang awalnya sudah tak seimbang semakin tambah tidak karuan mengendarainya. Seperti dugaan kalian aku terjatuh, tidak di tanah ,kalian tahu dimana? Di parit. Huaaaaa itu membuat sekujur tubuhku seketika kotor dan tentu saja wanginya tak sedap. Aku kemudian diangkat oleh orang yang lebih dewasa. Seingatku saat aku pulang, aku dimarahi oleh Nenek bukan karena Nenek kesal, hanya sajaia khawatir aku terluka. Inginsekali kukatakan bahwa aku baik-baik saja, hanya aku merasa sangat malu, Nek.
         Setelah kejadian itu, butuh cukup lama agar diriku menghilangkan rasa jatuh pada saat belajar sepeda roda dua. Aku bahkan bisa dikatakan trauma untuk menaiki sepeda lagi saat itu. Tenang, walaupun begitu setelah kira-kira setahun aku dibelikan sepeda oleh Ayahku. Sepeda itu awalnya roda empat, tetapi saat aku sudah mulai berani dan mencoba melupakan ingatan tentang jatuh dari sepeda setahun yang lalu, akhirnya aku lihai dalam mengendarai sepeda roda dua. Walaupun pasti saat belajar itu, aku sering terjatuh,tapi tidak di parit lagi. Syukurlah.
Sampai saat ini rasa jatuh itu masih terbayang, contohnya saat aku mengendarai motor seperti kurang seimbang dan kurang fokus. Bahkan aku pernah mengalami kecelakaan motor. Hey itu akan panjang lagi ceritanya.
       Itulah cerita semasa kecilku yang pernah aku alami, walaupun ada rasa trauma didalamnya tapi dari situ aku bisa belajar untuk tidak takut dan terus mencoba. Untuk teman-teman yang membaca cerita ini, kuharap kalian bisa sepertiku. Tidak, aku tidak menyuruhmu masuk ke dalam parit juga, haha. Tapi yang ingin ku katakana adalah walaupun kalian merasa tidak bisa melakukan sesuatu, cobalah terlebih dahulu, dan tetaplah berhati-hati. Gagal pasti akan kita alami. Rasa sakit, jatuh itu sudahlah hal biasa, tetapi itulah yang akan menjadi pengalaman berarti terhadap dirimu kedepannya. Seperti kata pepatah “ Pengalaman adalah Guru terbaik”.

Nah berdasarkan cerita Sohwa kita bisa kaitkan dengan beberapa teori menurut para ahli tentang anak usia dini;
1.      -Sutton Smith (dalam Hurlock,1987) menjelaskan bahwa bermain memiliki pengaruh yang sangat penting bagi anak, yakni sebagai dasar meniru, eksplorasi, menguji, dan membangun.
2.      -Menurut Parten, bermain adalah suatu kegiatan sebagai sarana bersosialisai dan dapat memberikan kesempatan anak bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi, dan belajar secara menyenangkan.

*NB: Sohwa adalah anak usia dini yang masih memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dengan begitu dia dapat mengeksplorasikan dirinya terhadap apa yang sedang ia hadapi, dengan begitu ia dapat mengetahui sesuatu hal yang baru yang belum dia temukan atau pelajari sebelumnya. Hal ini dapat diperkuat berdasarkan Teori Kognitif Sosial Vygotsky, yaitu pengetahuan anak dipengaruhi oleh hubungan sosial anak. Dengan adanya interaksi bermain antara Sohwa dan Mark membuat Sohwa menjadi semakin penasaran bagaimana cara mengendarai sepeda roda dua. Interaksi dalam bermain inilah yang menurut Vygotsky sebagai proses mendapatkan pengetahuan baru.

Komentar